Situ Ranca Hideung di Cihurip yang Terlupakan

Warga Ingin Ranca Hideung Dikelola Desa

GARUT – Di kecamatan Cihurip tepatnya di kampung Sukalila, Desa/kecamatan Cihurip terdapat situ yang pernah ramai dan dikunjungi oleh wisatawan luar kota bahkan manca negara. Akan tetapi saat ini situ tersebut kondisinya sangat mengenaskan karena tidak terawat bahkan jarang orang mengenal situ tersebut.

Menurut Syarifudin (58) selaku mantan ketua pengelola Situ Ranca Hideung, menceritakan bahwa di tahun 2010 merupakan tahun terakhir para pengunjung berkunjung ke situ tersebut. Tercatat hingga ribuan orang pernah berkunjung karena memang tidak di kenakan biaya kunjungan, situ Ranca Hideung memiliki sejarah dan mitos yang cukup unik.

“Untuk wisatawan memang tidak di tarik biaya, tapi dulu ketika ada yang ingin memancing kita kenakan tarif Rp200 hingga Rp300 ribu untuk sehari semalam, bahkan wisatawan dari luar kota maupun dari luar negri pernah ke sini,” ujarnya sambil menunjukan situ, kemarin (24/7).

Syarifudin juga menyampaikan, memang Situ Ranca Hideung memiliki cerita bahwa barang siapa yang memasukan kaki atau menginjakan ke situ maka akan muncul tanda hitam kurang lebih seperti tahi lalat. Selain itu, ada beberapa kalangan pejabat pun pernah ke sana.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, siapapun yang datang dan berprilaku dengan jujur maka akan jadi pejabat atau naik pangkat. Akan tetapi sebaliknya, jika datang atau memiliki niat dan berprilaku tidak bisa jujur dan memiliki niat yang jelek maka akan mendapatkan karir yang jelek, bahkan bisa kehilanagan pekerjaan atau tidak lancar dalam berkarir.

“Ada lah pejabat politik yang sudah pernah ke sini, dan sekarang orangnya sudah jadi pejabat di pusat. Saya tidak berani menyebutkan namanya, syariatnya air dari sini atau nyiar cai syareat,” ujarnya.

Dirinya juga sangat menyangkan ketika situ banyak pengunjung banyak pihak yang berebut ingin mengelola wisata situ Ranca Hideung dan akhirnya munculah pengunjung yang kerasukan mahluk halus. Dan isu tersebut lah yang menyebar dari mulut ke mulut yang akhirnya situ tersebut jadi sepi pengunjung.

Namun saat ini situ tersebut terbengkalai, Tak ada yang mengurus karena perebutan pengelolaan. Hasilnya, tak ada wisatawan yang berkunjung satu pun. Seolah Situ Rancahideung tak pernah menjadi lokasi wisata.

“Sudah enam tahun dibiarkan begitu saja situnya. Sekarang paling dipakai untuk mancing sama warga di sini. Padahal dulu banyak yang datang untuk menikmati keindahan situ,” ujarnya.

Situ seluas empat hektare itu, tutur Syarif, kondisinya sudah dangkal karena tak terurus. Saat masa jayanya, situ tersebut bisa menghidupi perekonomian warga. Terdapat sarana rekreasi bagi pengunjung untuk mengelilingi situ menggunakan rakit atau perahu angsa.

Rancahideung atau rawa hitam, lanjut Syarif, juga menjadi salah satu penampungan air bagi warga di Cihurip. Diberi nama Rancahideung karena rawanya berwarna hitam. Menurut warga, warna hitam merupakan sesuatu yang kuat dan abadi.

“Warga inginnya sekarang situ ini bisa kembali diaktifkan. Biar bisa seramai dulu lagi. Objek wisata kan juga bisa menambah perekonomian warga, Bisa ada yang jualan warga di sini,” ucapnya.

Situ yang dikelilingi perbukitan itu, tambah Syarif, kini hanya digunakan warga untuk memancing. Sisa-sisa kejayaan situ masih terlihat di kawasan situ berupa perahu angsa, rakit, dan bangunan yang dulu menjadi warung.

“Sekarang menunggu saja dari Desa buat bisa kembali menata. Butuh modal besar juga karena lumpur di situ harus dikeruk. Minimal situ ini bisa dibuka lagi sebagai objek wisata,” katanya. (bow)

Bagikan

Radar Garut

Koranna Urang Garut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *